Bantul — Kebutuhan riil di lapangan mendorong sejumlah pendamping desa untuk mengambil langkah inisiatif dalam memperkuat kapasitas mereka, khususnya dalam pendampingan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui bimbingan teknis (bintek) yang digelar secara mandiri, para pendamping berupaya menjawab tantangan yang selama ini dihadapi dalam penyusunan bisnis plan dan laporan keuangan.
Kegiatan ini diikuti oleh sebagian pendamping desa yang memiliki tanggung jawab dalam fasilitasi BUMDes. Bintek dibagi dalam dua sesi utama. Sesi pertama difokuskan pada penyusunan bisnis plan sebagai pijakan awal dalam merancang arah usaha BUMDes yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Sementara sesi kedua membahas penyusunan laporan keuangan, yang menjadi instrumen penting dalam menjaga akuntabilitas dan transparansi pengelolaan usaha desa.
Inisiatif ini lahir dari kebutuhan nyata para pendamping di lapangan Seiring meningkatnya tuntutan profesionalisme dalam pendampingan BUMDes, tidak sedikit pendamping yang merasa perlu memperkuat pemahaman teknis agar mampu menjalankan perannya secara lebih optimal. Kebutuhan ini disampaikan kepada Yuni Lestari salah satu TA Kabupaten bantul
Menjawab kebutuhan tersebut, Yuni Lestari, merespon dengan positif untuk membantu memberikan fasilitasi pelaksanaan bintek. Keterlibatan tenaga ahli ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pendampingan, sekaligus memastikan materi yang disampaikan tetap relevan dengan kebutuhan praktik di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini memang belum mengulas materi secara mendalam karena keterbatasan waktu. Namun, peserta mengakui bahwa bintek tersebut telah memberikan gambaran menyeluruh mengenai alur penyusunan bisnis plan dan laporan keuangan, mulai dari pemahaman dasar hingga praktik sederhana yang dapat langsung diterapkan dalam pendampingan.
Bagi para pendamping, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan diri dalam mendampingi BUMDes, terutama pada aspek yang selama ini dianggap teknis dan kompleks. Pemahaman yang lebih sistematis diharapkan mampu meningkatkan kualitas fasilitasi, sehingga BUMDes dapat berkembang secara lebih sehat dan berkelanjutan.
Ke depan, para pendamping berharap kepada Yuni Lestari agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali dengan durasi yang lebih panjang dan pembahasan yang lebih mendalam. Penguatan kapasitas dinilai menjadi kunci dalam memastikan peran pendamping tidak hanya sebatas administratif, tetapi juga sebagai mitra strategis desa dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas tidak selalu harus menunggu program formal. Ketika kebutuhan muncul dari lapangan, inisiatif kolektif para pendamping justru menjadi motor penggerak lahirnya solusi yang lebih adaptif dan tepat sasaran.