Bangunharjo, 28 Agustus 2026 — Kegagalan dalam sebuah usaha bukan selalu menjadi akhir dari perjalanan. Justru dari kegagalan, seseorang maupun sebuah organisasi dapat belajar, melakukan evaluasi, dan menemukan cara baru untuk berkembang. Hal itulah yang dialami BUMKal Bangkit Karya Kalurahan Bangunharjo dalam perjalanan mengembangkan usaha ketahanan pangan.
Dalam pelaksanaan program ketahanan pangan, BUMKal Bangkit Karya sebelumnya mengembangkan budidaya tanaman terong. Usaha tersebut diharapkan mampu memberikan hasil panen yang baik sekaligus menjadi sumber pendapatan bagi pengembangan usaha BUMKal.
Namun, usaha tidak selalu berjalan sesuai rencana. Tanaman terong yang dibudidayakan mengalami serangan virus atau jamur yang mematikan, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu dan hasil panen tidak mencapai target. Kondisi tersebut akhirnya menyebabkan BUMKal mengalami kerugian.
Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuat pengurus BUMKal Bangkit Karya menyerah. Kegagalan budidaya terong justru dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi usaha, termasuk dalam menentukan komoditas, teknik budidaya, pengelolaan risiko, dan peluang pasar.
Bangkit melalui Hortikultura
Dari proses evaluasi tersebut, BUMKal Bangkit Karya kemudian mulai mengembangkan usaha pada sektor hortikultura. Perubahan strategi ini dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan pengelola serta peluang usaha yang dapat dikembangkan di Kalurahan Bangunharjo.
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah cabai, yang hingga saat ini telah menghasilkan pendapatan sementara sekitar Rp12 juta.
Selain cabai, BUMKal juga mengembangkan jagung manis untuk kebutuhan bibit serta komoditas kacang panjang. Khusus untuk jagung manis, proses panen masih berlangsung sehingga hasil keseluruhan belum dapat dihitung. Namun, hasil sementara menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
Hasil Panen Ditinjau Langsung
Perkembangan budidaya jagung manis tersebut tidak hanya menjadi laporan di atas kertas. Hasil panen jagung secara langsung ditinjau di lokasi oleh Lurah Bangunharjo bersama Pendamping Desa, Pendamping Lokal Desa (PLD), serta Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM), Dwi Endrianto. Peninjauan lapangan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung perkembangan usaha ketahanan pangan yang dikelola BUMKal. Dari kegiatan tersebut dapat dilihat kondisi tanaman, proses panen, serta perkembangan hasil usaha yang sedang berjalan. Kehadiran unsur Pemerintah Kalurahan dan pendamping juga menjadi bentuk dukungan terhadap pengurus BUMKal agar terus melakukan evaluasi dan pengembangan usaha berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Mulai Menjalin Kerja Sama dengan Pihak Ketiga
Tidak berhenti pada pengembangan komoditas secara mandiri, BUMKal Bangkit Karya juga mulai menjalin kerja sama dengan pihak ketiga.
Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah pengembangan jagung manis untuk kebutuhan bibit. Kerja sama ini membuka peluang baru bagi BUMKal untuk mengembangkan usaha sekaligus membangun jaringan pasar yang lebih luas.
Selain jagung manis, pengembangan cabai dan kacang panjang juga menjadi bagian dari diversifikasi usaha hortikultura BUMKal. Diversifikasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas sekaligus membuka peluang pendapatan dari berbagai kegiatan usaha.
Kegagalan Menjadi Guru
Perjalanan BUMKal Bangkit Karya memberikan sebuah pelajaran bahwa usaha tidak selalu berhasil pada percobaan pertama. Kegagalan dalam budidaya terong memang menimbulkan kerugian, tetapi pengalaman tersebut memberikan pengetahuan baru bagi pengurus dalam mengelola usaha pertanian.
Dari kegagalan tersebut, pengurus belajar pentingnya mengenali risiko penyakit tanaman, menentukan komoditas yang sesuai, memperhatikan kemampuan pengelola, serta membangun kerja sama dengan pihak yang dapat mendukung pengembangan usaha.
Kini, hasil sementara dari budidaya cabai yang telah mencapai sekitar Rp12 juta, ditambah perkembangan jagung manis yang masih dalam proses panen, menjadi penyemangat baru untuk terus melangkah. Diharapkan paling tidak selama 2 tahun kedepan bisa memulangkan modal awal dan dapat memberikan PAD kedepannya.
Terus Belajar dan Berani Berubah
Bagi BUMKal Bangkit Karya, keberhasilan bukan hanya soal seberapa besar keuntungan yang diperoleh. Lebih dari itu, keberhasilan juga berarti mampu bangkit setelah mengalami kegagalan, belajar dari pengalaman, dan berani mengubah strategi ketika cara sebelumnya belum berhasil.
Pengembangan hortikultura melalui cabai, jagung manis, dan kacang panjang menjadi langkah baru BUMKal untuk membangun usaha yang lebih beragam. Sementara kerja sama dengan pihak ketiga menjadi peluang untuk memperkuat keberlanjutan usaha.
Dukungan Pemerintah Kalurahan, pendamping, dan TAPM juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Pendampingan tidak hanya diperlukan ketika usaha mengalami kendala, tetapi juga untuk memastikan keberhasilan yang mulai diraih dapat terus dikembangkan.
Perjalanan BUMKal Bangkit Karya membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir dari sebuah usaha. Kegagalan dapat menjadi pengalaman berharga untuk menemukan jalan yang lebih tepat.
Dari terong yang gagal panen, lahir keberanian untuk mencoba kembali. Dari proses evaluasi, muncul strategi baru. Dan dari keberanian untuk bangkit, mulai terlihat hasil yang memberikan harapan.
BUMKal Bangkit Karya terus belajar, terus beradaptasi, dan terus menanam harapan untuk membangun usaha ketahanan pangan yang produktif dan berkelanjutan bagi Kalurahan Bangunharjo.

0 Komentar