Dari Limbah Mebel Menjadi Lumbung Pangan: Jamur Kuping, Peluang Emas BUMKal Jatimulyo

 

Jatimulyo, Dlingo, Bantul — Ketahanan pangan desa tidak harus selalu identik dengan sawah, padi, dan jagung. Di tengah kebutuhan pangan bergizi yang semakin beragam, desa perlu berani melihat potensi pangan lain yang bisa dibudidayakan dengan lahan terbatas, modal relatif terjangkau, sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Salah satu peluang tersebut adalah budidaya jamur kuping (Auricularia sp.).

Komoditas yang selama ini mungkin hanya dipandang sebagai bahan pelengkap masakan ternyata menyimpan peluang besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan sekaligus penggerak ekonomi desa. Bagi BUMKal Jatimulyo, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Dlingo, Bantul, jamur kuping bahkan dapat menjadi titik temu antara ketahanan pangan, pemanfaatan limbah, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan pendapatan desa.

Bukan Sekadar Jamur, tetapi Strategi Ketahanan Pangan Desa

Ketahanan pangan pada dasarnya bukan sekadar memastikan masyarakat memiliki beras. Ketahanan pangan juga berarti tersedianya pangan yang cukup, bergizi, terjangkau, dan dapat diproduksi secara berkelanjutan.

Jamur kuping memenuhi sejumlah kriteria tersebut. Komoditas ini dikenal mengandung protein, serat, zat besi, serta senyawa antioksidan. Budidayanya juga relatif singkat dan dapat dilakukan pada ruang terbatas.

Dengan masa produksi sekitar 45–60 hari untuk mulai menghasilkan, kemudian dapat dipanen secara bertahap selama beberapa bulan, jamur kuping memberikan peluang bagi masyarakat untuk memperoleh sumber pangan sekaligus pendapatan dalam waktu relatif cepat.

Di sinilah peran BUMKal menjadi penting.

Jika dikelola secara kelembagaan, budidaya jamur kuping tidak berhenti sebagai usaha beberapa orang warga. Ia dapat dikembangkan menjadi unit usaha desa yang melibatkan kelompok masyarakat, menyerap tenaga kerja, memanfaatkan bahan baku lokal, dan memberikan kontribusi bagi pendapatan desa.

Dlingo Punya Modal Alam yang Menjanjikan

Jatimulyo memiliki sejumlah keunggulan yang mendukung pengembangan budidaya jamur.

Wilayah Dlingo memiliki kondisi lingkungan yang relatif sejuk dengan kelembapan yang mendukung. Di sisi lain, kawasan ini juga dikenal memiliki aktivitas usaha mebel yang menghasilkan serbuk gergaji.

Serbuk gergaji yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan utama media tanam jamur.

Kontributor : M thonthowi TAPM Kab Bantul

Posting Komentar

0 Komentar