Senin, 02 Februari 2026

 Soft Skill TPP: Kunci Agar Program Benar-benar Landing Tepat Sasaran


 Bantul, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) adalah ujung tombak keberhasilan program di masyarakat; sebagai fasilitator, mereka bukan sekadar penghubung, tetapi motor penggerak perubahan yang harus membangun komunikasi persuasif menembus resistensi, menghadapi masyarakat dengan karakter beragam, menyesuaikan diri dengan kepentingan pemerintah desa, menyinergikan lembaga dan instansi terkait demi keberhasilan program, menegakkan integritas, memelihara kepercayaan diri, mengelola konflik dengan bijak, menumbuhkan karakter berpadu dengan inner value, dan menunjukkan profesionalitas yang tak tergoyahkan, sehingga setiap program tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar landing, membuahkan hasil nyata, dan meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan di masyarakat.

Di lapangan, TPP menghadapi tantangan yang kompleks, kontradiktif, dan kadang paradoksal; kesalahpahaman terhadap tupoksi fasilitator membuat mereka sering diminta “mengambil alih eksekusi kegiatan”, padahal itu bukan peran mereka, sementara perbedaan latar belakang pendidikan, kondisi sosial, kepentingan lokal, dan tantangan berbagai pihak sering memicu resistensi, penolakan, dan miskomunikasi; di sinilah soft skill menjadi penentu—apakah TPP mampu menegaskan posisinya, membangun kepercayaan, dan memastikan program berjalan sesuai mandat, atau justru terhambat karena komunikasi dan negosiasi yang lemah.

“Di lapangan, tantangan terbesar bukan sekadar program, tetapi bagaimana TPP sebagai fasilitator menghadapi berbagai karakter dengan beragam kepentingan, dan tekanan, tetap profesional, tegas, dan mampu memimpin proses perubahan,” tegas Yuni Lestari, PIC Peningkatan Kapasitas TPP Kabupaten Bantul. Menurutnya, soft skill yang berlandaskan inner value menentukan apakah pendamping mampu menegakkan posisi strategis, memimpin dengan percaya diri, menjadi motor perubahan, atau kehilangan pengaruh dan kesempatan menjalankan program secara optimal. “Jika soft skill dan inner value diperkuat, kapasitas teknis TPP bisa dioptimalkan sepenuhnya. Tanpa itu, keberhasilan program tetap diragukan,” ujarnya.

Penguatan soft skill TPP—termasuk public speaking yang memikat, komunikasi asertif, pengelolaan konflik, serta pembentukan karakter profesional yang kokoh—menjadi kebutuhan mendesak. Ini bukan sekadar kebutuhan kabupaten, tetapi juga masukan strategis bagi TPP Pusat, agar fasilitator mampu menghadapi kompleksitas lapangan dan memastikan program benar-benar landing di masyarakat, serta mampu meninggalkan dampak nyata yang bertahan lama.


Tindak lanjut yang harus segera dilakukan:

  1. Pelatihan intensif soft skill, fokus pada public speaking, komunikasi persuasif, negosiasi, dan manajemen konflik.

  2. Pendampingan dan mentoring berkelanjutan, agar soft skill yang dipelajari langsung diterapkan di lapangan.

  3. Penguatan inner value, melalui sesi character building, pengembangan profesionalisme, dan etika kerja.

  4. Monitoring dan supervisi berkala dari TPP Pusat dan kabupaten, untuk memantau penerapan soft skill dan memastikan program mendarat sesuai target.

Dengan langkah-langkah ini, TPP bukan sekadar menjalankan program, tetapi menjadi fasilitator penggerak perubahan yang efektif, berpengaruh, menegakkan integritas, profesionalitas, dan dampak nyata, memastikan setiap program benar-benar memberi manfaat dan meninggalkan jejak positif bagi masyarakat.

 Penulis : Yuni Lestari, TPP Kabupaten Bantul                                                           

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar